Kabupaten Tasikmalaya, (bahasa Inggris:
Tasikmalaya Regency) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Indonesia. Terletak di tenggara daerah Priangan, Kabupaten Tasikmalaya sejauh ini dinilai sebagai kabupaten paling besar dan berperan penting di wilayah Priangan Timur. Sebagian besar wilayah Kabupaten ini merupakan daerah hijau, terutama pertanian dan kehutanan, sementara petani menetap sebagai mayoritas penduduk. Kabupaten Tasikmalaya terkenal akan produksi Kerajinannya, Salak, sementara Nasi Tutug Oncom
adalah makanan terkenal dari Kabupaten ini. Kabupaten Tasikmalaya juga
dikenal sebagai pusat keagamaan besar di Jawa Barat, yang memiliki lebih
dari 800 pesantren tersebar di penjuru wilayah Kabupaten
Sejarah
Toponimi
Perbukitan Sepuluh Ribu, tumpukan perbukitan dari letusan Gunung Galunggung
Pada awalnya, nama yang menjadi cikal-bakal Tasikmalaya terdapat di
daerah Sukapura. Sukapura dahulunya bernama Tawang atau Galunggung,
sering juga disebut Tawang-Galunggung. Tawang berarti
sawah atau
tempat yang luas terbuka. Penyebutan Tasikmalaya menuncul setelah Gunung Galunggung meletus sehingga wilayah Sukapura berubah menjadi
Tasik (danau, laut) dan malaya dari
(ma)layah yang bermakna
ngalayah (bertebaran) atau deretan pegunungan di pantai Malabar (India).
Tasikmalaya mengandung arti
keusik ngalayah, bermakna
banyak pasir di mana-mana.
Asal muasal
Sebuah foto tahun 1920-1935, menunjukan panorama Kabupaten Tasikmalaya - Neglasari, Kecamatan Salawu.
Dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang sekarang
dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk
Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar
Galunggung, dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan
Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat
persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang
memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Semplakwaja,
Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang
yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari
kebataraan menjadi kerajaan.
Sebuah jalan menuju Kabupaten Tasikmalaya, sementara Gunung Galunggung terlihat di kejauhan - 1920-1940.
Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13
Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya
yaitu Batari Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan
di bukit Geger Hanjuang, Desa Linggawangi
, Kecamatan Leuwisari,
Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal
sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan
ajaran resmi pada zaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di
Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja
berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang
Periode moderen
Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan
Ibukota di Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa,
Tasikmalaya), yang merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan
Pajajaran. Penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya
sezaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem Sukakerta sebagai penerus tahta
diperkirakan sezaman dengan Prabu Surawisesa (1521-1535 M) Raja
Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.
Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah
mulai terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon
dan Demak. Sunan Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh
wilayah tanah Sunda untuk mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran
mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya terutama yang terletak di bagian
timur berusaha melepaskan diri. Mungkin sekali Dalem Sukakerta atau
Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa Sukakerta yang merdeka, lepas
dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua penguasa itu sudah masuk
Islam.
Periode selanjutnya adalah pemerintahan di Sukapura yang didahului
oleh masa pergolakan di wilayah Priangan yang berlangsung lebih kurang
10 tahun. Munculnya pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga
kekuatan besar di Pulau Jawa pada awal abad XVII Masehi: Mataram,
banten, dan VOC yang berkedudukan di Batavia. Wirawangsa sebagai
penguasa Sukakerta kemudian diangkat menjadi Bupati daerah Sukapura,
dengan gelar Wiradadaha I, sebagai hadiah dari Sultan Agung Mataram atas
jasa-jasanya membasmi pemberontakan Dipati Ukur. Ibukota negeri yang
awalnya di Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa Sukaraja dan
“negara” disebut “Sukapura”.
Raden Tumenggung Wirahadiningrat,
regent Manonjya (masa jabatan 1875-1901), berpakaian buru
Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) ibukota Kabupaten
Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya. Kemudian pada masa pemerintahan
Wiradadaha VIII ibukota dipindahkan ke Manonjaya (1832). Perpindahan
ibukota ini dengan alasan untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan
Belanda dalam menghadapi Diponegoro. Pada tanggal 1 Oktober 1901 ibukota
Sukapura dipindahkan kembali ke Tasikmalaya. Latar belakang pemindahan
ini cenderung berrdasarkan alasan ekonomis bagi kepentingan Belanda.
Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur menjadi penghasil kopi dan
nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih dahulu dikumpulkan di
suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Letak Manonjaya kurang
memenuhi untuk dijadikan tempat pengumpulan hasil
-hasil perkebunan yang
ada di Galunggung.
Nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi
Kabupaten Tasikmalaya dengan R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) sebagai
Bupatinya.
Tanggal 21 Agustus 1111 Masehi dijadikan Hari Jadi Tasikmalaya
berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat sebagai tanda upacara
pentasbihan atau penobatan Batari Hyang sebagai Penguasa di Galunggung
Pariwisata
Kampung Naga
Kampung Naga terletak sekitar 90 km dari Bandung. Masyarakat yang tinggal di daerah ini mempunyai tradisi lama yang tetap dipertahankan. Keunikan kampung ini adalah bangunan-bangunan rumah yang dibuat seragam, mulai dari bahan bangunan sampai pada potongan bangunan dan arah menghadapnya.
Kerajinan
Daerah Rajapolah amat terkenal dengan kerajinan anyaman. Di sini banyak dihasilkan tikar, anyaman dari bambu, perabotan rumah tangga,
dan sebagainya. Industri kecil lainnya yang amat menarik: Bordir di
Kawalu, Payung Tasik, Kelom Geulis dan Batik Tulis. Lingkungan industri
kecil yang sedang pesat berkembang ialah Desa Setiamulya, yang
menghasilkan industri bordir, kelom geulis, sepatu kulit, meubel,
anyaman mendong, dan topi.
Gunung Galunggung
Ledakan dahsyat Galunggung, 1982
Kabut volkano Galunggung, 1982
Letusan Gunung Galunggung terakhir, yang terjadi pada tanggal 5 April 1982,
memberikan keuntungan di satu sisi. Sisa-sisa letusan itu sekarang
berubah menjadi obyek wisata yang indah mempesona, membentuk danau kawah dan sumber air panas.
Pantai Cipatujah
Pantai dengan keindahan alam laut, berpasir putih. Terletak di Kecamatan Cipatujah, sekitar 74 km dari kota Tasikmalaya. Rekreasi bisa dilakukan di muara sungai Cipatujah, mempergunakan perahu, memancing, serta bisa berbelanja berbagai macam buah pisang.
Pantai Sindangkerta
Keistimewaan Pantai Sindangkerta, adalah taman laut yang disebut Taman Lengsar. Bisa digunakan sebagai tempat berenang. Jika air laut surut, maka di taman seluas 20 hektar itu, akan dijumpai karang laut, ikan hias, dan suaka alam satwa penyu hijau yang sudah langka kita temukan.
Pantai Karang Tawulan
Jarak dari kota Tasikmalaya 100 km, terletak di kecamatan Cikalong. Sebuah pantai berkarang dan landai, memiliki panorama
laut yang mempesona. Agak ke timur, terdapat pulau kecil Nusa Manuk.
Pada waktu-waktu tertentu, Nusa Manuk dihuni oleh berbagai macam jenis
burung
sumber wikipedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar