ads

Jodoh Gus Dien (Part II) cerbung santri lucu


Sambungan dari:
"Jodoh Gus Dien (Part I)"
by: The May

...sebongkah tembok runtuh menjatuhi sebuah bangku kecil di sudut dekat pintu mushola. Terlihat seekor cicak terhimpit di antara tindihan batu bata yang remuk menjadi beberapa bagian.
"Yah, bangunan mushola ini memang sudah rapuh parah," tutur Mbah Kuri yang segera bangkit membersihkan area 'gempa dinding' itu. Sementara Gus Dien yang masih penasaran soal siluman cicak hitam itu, sambil membantu dia menagih kelanjutan cerita Mbah Kuri, "Lalu, cicak itu sejenis makhluk apa mbah?" tanya Gus Dien, penasaran. "Siluman Cicak Hitam itu adalah julukan seorang preman di kampung ini. Nama aslinya Amir. Tiap malam dia berkeliaran di sekeliling kampung membuat resah warga sekitar," cerita Mbah Kuri sambil duduk kembali setelah membuang bongkahan tembok yang tadi menghantam bangku sampe remuk itu. "Ooh.. Saya kira bukan manusia. Wkwkwkwk..," sambut Gus Dien diiringi seringai tawa kecil. "Ya sudah, mari kita shalat dulu," ajak Mbah Kuri.

Selama tiga hari Gus Dien menginap di mushola itu. Sampai suatu ketika, dia keluar dari mushola untuk ke warung sebelah, tempat biasa ia makan. Ketika itu, Gus Dien sedang menunggu pesanan makanannya datang, lalu seorang pria bertubuh kekar berkulit hitam dengan slayer melingkar di atas kepalanya. "Orang baru lu?" tanya lelaki itu yang belakangan diketahui bernama Amir Siluman Cicak Hitam. "Iya bang, mari makan?" jawab Gus Dien seraya basa-basi menawarkan makan pada Amir.
Tanpa ba-bi-bu, Amir langsung saja menodongkan belati di pinggang Gus Dien seraya mengancam, "Bagi duit jajan!" bisiknya pada Gus Dien.
Gus Dien yang sisa uangnya tinggal 5 ribu rupiah (itupun untuk bayar makan kali ini) menjawab, "Sudah habis bang, tinggal 5 ribu buat bayar," kata Gus Dien, memelas. Tapi Amir rupanya tak mau tau, langsung saja dia merogoh seluruh pakaiannya dan benar saja, di dompetnya cuma ada KTP dan uang 5 ribu.
"Emm, kamu orang jauh dari sini. Tapi nggak punya uang cukup. Gimana pulangnya nanti?" tanya Amir, sambil melihat KTP Gus Dien, sedikit bijak.
Setelah ngobrol beberapa saat, akhirnya Gus Dien pun sepakat untuk ikut Bang Amir bekerja sebagai penjaga pasar di desa Limbangsari.
"Terima kasih bang, hanya pekerjaan ini yang bisa buat saya bertahan hidup," tutur Gus Dien setelah sampai di sebuah kios kosong di sudut pasar yang ternyata tempat mangkirnya gembel-gembel pasar situ.
Kebetulan di situ sedang ada Mat Dogler, seorang pria berambut panjang berjenggot kepang yang sedang mengelap-elap flag senar gitarnya. Gus Dien pun diperkenalkan dengan pengamen yang sedang menenggak 'jamu iblis' itu.
Awalnya memang risih. Seorang putra terpelajar seperti Gus Dien harus berkenalan dengan sampah-sampah macam mereka. Tapi Gus Dien mencoba rileks dan mereka pun menganggap Gus Dien biasa saja seperti teman-teman mereka yang lain.
"Cobain..." kata Mat Dogler sambir menyodorkan gitarnya pada Gus Dien. "Saya kurang bisa maen gitar," jawab Gus Dien sambil menarik rokok dari bungkusnya yang ditawarkan Mat Dogler. "Makanya pegang, biar bisa.. Nggak mau saya ajarin?" kata Mat Dogler lagi. Gus Dien pun lalu menempatkan gitar itu di atas pahanya dan mulai menggenjreng, tapi fals dan tanpa chord yang jelas.
Terbesit dalam fikiran Gus Dien, "benarkah yang sedang aku pegang ini gitar?" dia membatin.
Gitar memang sebuah permainan musik yang dilarang agama. Bagi seorang putra Kyai seperti Gus Dien ini, gitar tampak begitu seram dan berbau neraka.
Tapi memang sebenarnya, Gus Dien sendiri masih bertanya-tanya soal hukum memainkan gitar ini. Kenyataannya, dia pernah membaca suatu kitab yang berisi penjelasan tentang penemu senar gitar. Ya, Al Farabi, seorang ulama ahli tasawuf yang juga pakar di bidang ilmu filsafat. Hingga terbenak dalam batin Gus Dien, "Pentolan tasawuf saja menjadi penemu senar gitar, kenapa menggunakannya tidak boleh?" batin Gus Dien, kritis.
Gus Dien mempelajari chord gitar dari Mat Dogler mulai A mayor, A minor, sampai G. Semuanya masih kunci dasar permainan gitar. Sambil menekan-nekankan jemari kirinya di senar, otaknya terus berkonsentrasi diiringi lilitan bimbang di rahim sanubarinya.
Ia pun teringat kisah Sunan Kalijaga yang juga memainkan sejenis alat musik gamelan. Hingga akhirnya Gus Dien makin mantap saja memainkan gitar di tangannya itu.
Yah, mungkin karena berteman dengan seorang pengamen, Gus Dien pun mencari-cari alasan untuk menghalalkan permainan gitar. Dia tidak sadar bahwa Al Farabi ataupun Sunan Kalijaga memainkan alat musik karena alasan lain. Yaitu,...



*bersambung ke Part III.

Artikel Terkait:

0 komentar: