"Brakkk..!!" Kyai Birin membanting gitar putra kesayangannya sendiri dengan penuh amarah.
"Plak..!!
Plak..!! Plak..!! Mau jadi apa kamu hah??" amuk Kyai Birin pada
putranya yang biasa dipanggil Gus Dien itu. Seberendel tamparan mendarat
disertai gelegar amarah membahana di seluruh dinding rumah.
"Ya
Allah.. Istighfar Dien... Istighfaaar... Ayah sudah nggak tahan lihat
kamu kayak begini terus.." sambungnya dengan nada yang masih penuh
emosi, namun terdengar melemah karena saking gemesnya.
Kyai Birin
memang tipikal seorang Kyai yang tegas dalam mendidik anaknya. Hingga
wajar bila Gus Dien didamprat habis-habisan akibat kenakalannya.
Gus Dien sendiri hanya bisa tertunduk menghadapi amarah ayahandanya.
Putra
Kyai kharismatik yang sangat disegani di daerahnya ini, memang
tergolong liar pergaulannya. Sehingga gaya hidupnya pun sama sekali
tidak sinkron dengan statusnya sebagai 'pangeran pesantren'..
Gus
Dien sebenarnya dibekali otak yang cerdas. Di umurnya yang baru 16
tahun saja, dia sudah hafal Al Quran 30 juz. Di samping itu, Gus Dien
juga punya suara yang merdu. Tiap kali Gus Dien membacakan Al Quran,
seakan-akan angin sepoi pun ikut berhenti untuk mendengar lantunan ayat
suci Al Quran yang dibawakan Gus Dien dengan sepenuh hati itu. Bahkan
terkadang, ibunya ikut menyimak dan tertangis bangga pada putra semata
wayangnya ini.
Namun kenyataan memang harus diterima.
Semenjak
Kyai Birin menjodohkan Gus Dien dengan Ning Yulia, putri teman beliau
yang juga Kyai, Gus Dien pun berontak dan kabur dari rumah.
Ning
Yulia memang cantik, putih, anggun, cerdas dan baik hati. Namun di mata
Gus Dien, dia adalah monster menakutkan yang pernah membuatnya sakit
hati.
Pendek cerita, Gus Dien memang pernah naksir Ning Yulia
waktu si cantik itu mesantren di tempat ayahnya, tapi Ning Yulia
menolaknya dengan alasan takut ketahuan Kyai Birin. Itu dilakukannya
mengingat dia juga tidak ingin mengganggu Gus Dien yang sedang
konsentrasi belajar ilmu agama pada ayahnya. Walaupun sebenarnya dalam
hati Ning Yulia juga menyimpan perasaan yang indah pada Gus Dien.
Alhasil,
semenjak itu, hati Gus Dien pun tertanami perasaan dendam pada
penolakan Ning Yulia yang dianggapnya penghinaan itu. Sampai-sampai dia
menyumpahi tidak akan pernah menikahi perempuan itu.
Hingga ketika
ibunya memberitahukan bahwa dia akan dinikahkan dengan Ning Yulia,
sontak Gus Dien pun kehilangan kontrol dan kabur dari rumahnya tanpa
jejak sedikitpun.
Kala itu, seluruh keluarga dan teman-teman Gus
Dien baik teman di Pesantren maupun teman lamanya yang dari luar
kalangan santri dipanggil oleh Kyai Birin untuk berkumpul di
kediamannya. Tak lain lagi, yang dibahas adalah mengenai ke mana
perginya Gus Dien. Namun tak satupun di antara mereka yang tidak
menggeleng kepala atau saling tanya.
Di sisi lain, Gus Dien yang
tidak tau arah ke mana ia akan singgah, masih berjalan meretas
perkampungan yang sama sekali belum pernah ia kenal.
Sebuah tas melilit di punggungnya, hanya berisi pakaian dan sebotol air putih.
Kelelahan memaksa Gus Dien untuk melangkahkan kaki mencari tempat istirahat. Tujuannya tak lain lagi, masjid/ mushola terdekat.
Gus
Dien melangkah melewati rumah-rumah dan akhirnya ia sampai di tempat
yang sedang dicarinya itu. Ya, sebuah mushola kecil dengan bangunan tua
yang cukup sederhana. Terlihat tembok-temboknya yang sudah retak dan
penuh debu.
"Dari mana de'?" seorang lelaki tua bertubuh ceking
dengan punggung yang bungkuk menyapa lamunan Gus Dien saat ia sedang
berselonjor teras mushola itu. Mbah Kuri, begitulah pria tua itu biasa
disapa.
Gus Dien pun bersilah dan menyalami lelaki yang membawa
sajadah kumuh itu. "Saya Idin, seorang musafir dan rumah saya lumayan
jauh dari sini" jawab Gus Dien tanpa menyebut asal rumahnya.
Tampaknya
Mbah Kuri pun tidak terlalu mempersoalkan masalah itu. Buktinya dia
menutup pertanyaannya dengan bercerita panjang lebar tentang mushola
reot tanpa toilet ini.
"Dulu waktu masih ada Pak Agung, mushola ini
terurus karena ada pengurusnya.. Semenjak Pak Agung dan keluarganya
pindah ke Tanjungsari, kampung sebelah, hanya saya yang peduli menyapu,
menabuh kentongan dan adzan di mushola ini" kisah Mbah Kuri pada Gus
Dien.
Mbah Kuri lalu menceritakan semua tentang masyarakat kampung
Rejotresno ini panjang lebar. Tak luput pula ia menceritakan tentang
Siluman Cicak Hitam yang setiap malam berkeliaran di kampung Rejotresno
ini.
"Cicak itu bukan hewan ataupun jin. Tapi dia adalah..." cerita
Mbah Kuri terpotong karena tiba-tiba pandangan matanya tertuju pada
sebuah cicak di tembok mushola. Tak lama kemudian.., "Glubrakkk!!!"
...bersambung ke part II)