Thariq bin Ziyad
Sang Penakluk Andalusia
Thariq dilahirkan pada tahun 50 H (670 M), di tengah suku keluarga Berber (Barbar, red.) dari kabilah Nafazah, di Afrika Utara.
Thariq
berperawakan tinggi, berkening lebar, dan berkulit putih kemerahan. Dia
masuk Islam di tangan seorang komandan muslim bernama Musa bin Nusair,
orang yang dikagumi karena kegagahan, kebijaksanaan dan keberanianya.
Jalan Ke Andalusia
Misi
ekspansi pasukan Islam ke luar Jazirah Arab bermula di masa Khulafaur
Rasyidin, dengan tujuan menyebarluaskan Islam ke seluruh wilayah yang
memungkinkan untuk di jangkau pasukan Islam. Maka tercapailah penaklukan
atas Syam (Syiria, Palestina, dan sekitarnya), Irak dan Iran (Persia).
Pasukan
muslimin juga berangkat menaklukan Mesir di bawah pimpinan panglima
‘Amru ibnul-‘Ash. Mesir saat itu berada di bawah kekuasaan penjajah
Romawi (Bizantium). Setelah masuk ke Mesir, mereka menuju ke arah
Burqah, lalu sampailah pasukan Islam ke Tripoli (sekarang ibu kota
negara Libya-red.) untuk mengepungnya dan mendudukinya.
Pada masa
kekhilafahan Usman bin Afaan, pasukan Islam mulai membuka ekspansi ke
kawasan Maghribi (Maroko dan sekitarnya), di bawah komandan Abdullah bin
Sa’ad bin Abi Sarh. Di dalam pasukan terdapat putra-putra sahabat
Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam.
Tekad dan semangat mereka
semakin kuat setelah berperang melawan pasukan Romawi yang dipimpin
Jurjir. Ekspansi itu berlanjut cepat hingga memasuki kota Carthago di
pantai Utara Afrika, sebelah utara kota Tunis sekarang. Pasukan Islam di
wilayah Ifriqiya ini di pimpin oleh komandan Uqbah bin Nafi’. Ia
memiliki wawasan yang luas tentang situasi daerah itu. Selanjutnya ia
membangun kota Qairawan (Kairaouan) di Tunisia, untuk mengukuhkan
keberadaan Islam di bumi Afrika.
Selanjutnya Uqbah bin Nafi’ dan
pasukannya bergerak kearah barat dan selatan dan sampai ke Tangier
(Arab: Tanja), sekarang Maroko. Dalam perjalanan pulang ke Qairawan ia
dihadang gerombolan suku Berber. Uqbah bin Nafi’ terbunuh bersama tiga
ratus tentaranya. Ia dimakamkan di suatu tempat yang sekarang dinamai
Sidi Uqbah (Tahuda) di Aljazair sekarang.
Kaum muslim menuntut
balas atas kematian Uqbah, dan mereka berhasil membunuh Kasilah,
komandan perang Berber. Namun, tindakan balas-membalas itu tidak
berkepanjangan, sebab orang Berber sudah merasa puas dengan terbunuhnya
Zuhair bin Qais yang membunuh Kasilah. Zuhair gugur di Qadisiyyah
(Irak).
Dan pada akhirnya pasukan muslimin berhasil menaklukkan
wilayah Ifriqiya di bawah komando Hasan bin an-Nu’man al-Ghassani yang
berhasil menceraiberaikan pasukan Berber. Ia juga memorakporandakan
pasukan Romawi, dan menang dalam perang melawan pasukan
Al-Kahin (Sang Dukun) sesudah menaklukkan Bazrat.
Setelah
itu datanglah Musa bin Nushair sebagai pemegang komando utama pasukan
muslimin di Afrika. Ia meraih berbagai kemenangan sampai jauh ke barat
di tepi samudera, dan kembali ke Qairawan sesudah terbina keamanan dan
ketertiban.
Saat itulah seorang komandan Berber bersama pasukannya
masuk Islam. Ia sebelumnya dikenal sebagai komandan penjaga di Tangier.
Ia adalah Thariq bin Ziyad.
Jalan ke daratan Spanyol terbuka luas
setelah Julian, pangeran Spanyol di Ceuta (Sabatah) meminta bantuan
Musa bin Nusair untuk menyerang dan menjatuhkan Raja Roderick dari
bangsa Visigoth yang berkuasa di Spanyol dari ibu kotanya di Toledo.
Julian marah karena Raja Kristen Roderick memperkosa adik perempuannya
yang ia titipkan ke Raja untuk bisa memperoleh pendidikan tinggi. Thariq
dan Julian pun berkawan dekat.
Menaklukkan Andalusia (Spanyol)
Musa
bin Nushair merasa perlu menguji Count (Pangeran) Julian dengan
mengirim 500 tentara di bawah komando Tharif ke wilayah yang sampai kini
dinamai Tarifa, di ujung paling selatan Spanyol. Orang Arab
menamakannya Jazira Tharif (Terifa). Itu terjadi pada tahun91 H.
Tharif membawa misi utama pengintaian kekuatan Kerajaan Bangsa
Visigoth, serta penjajakan bagi sebuah operasi militer besar.
Gubernur
Musa semakin yakin akan kejujuran Pangeran Julian, setelah Pangeran
Ceuta itu juga menyiapkan kapal-kapal yang akan digunakan untuk
menyerang Spanyol. Dan setetlah mendapat izin dari Khalifah Al-Walid bin
Abdul Malik di Damaskus, Musa pun memutuskan menyerang Spanyol. Apalagi
saat itu Raja Roderick di Toledo sedang menghadapi pemberontakan di
bagian utara kerajaannya. Untuk melaksanakan misi besarkannya itu, Musa
memilih seorang Berber, Thariq bin Ziyad, sebagai Komandan.
Panglima
perang Thariq bin Ziyad bersama 7000 tentara, yang mayoritas berasal
dari suku Berber, menyeberang ke Spanyol di tahun 711 M. ia mendarat
dekat gunung batu besar yang kelak dinamai dengan namanya, Jabal
(gunung) Thariq, Orang Eropa menyebutnya Gilbraltar.
Setelah
berhasil menyeberang ke daratan Spanyol, tiba-tiba Thariq mengambil
langkah yang hingga sampai kini membuat tercengang para ahli sejarah. Ia
membakar perahu-perahu yang digunakan untuk mengangut pasukannya itu.
Lalu ia berdiri di hadapan para tentaranya seraya berpidato dengan
lantang berwibawa, dan tegas.
Dalam pidatonya yang penuh semangat, panglima Thariq berkata;
“Di
mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan
kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan
sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan
mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki
bekal lain kecuali pedang, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali
yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya
perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya,
akan sirnalah kekuatan kalian. Akan lenyap rasa gentar mereka terhadap
kalian. Oleh karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian
dengan sifat terhormat. Kalian harus rela mati. Sungguh saya peringatkan
kalian akan situasi yang saya pun berusaha menanggulanginya.
Ketahuilah, sekiranya kalian bersabar untuk sedikit menderita, niscaya
kalian akan dapat bersenang-senang dalam waktu yang lama. Oleh karena
itu, janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian tidak
lebih buruk daripada nasibku…”
Selanjutnya ia berteriak kencang:
“Perang atau mati!” Pidato yang menggugah itu merasuk ke dalam sanubari seluruh anggota pasukannya.

Dan
pada 19 Juli 711 M, pasukan Thariq yang saat itu berjumlah 12000
personil setelah ada tambahan pasukan dari Ifriqiya, berhadapan dengan
Raja Roderick dan pasukannya di mulut sungai (Rio) Barbate. Peperangan
di bulan Ramadhan itu berlangsung sengit selama delapan hari. Pasukan
Roderick pada awalnya sempat unggul, namun kelemahan di sayap kiri dan
kanan pasukan mereka berhasil dimanfaatkan oleh pasukan Islam. Dan
pasukan Roderick pun terdesak, hingga akhirnya dipukul mundur. Pasukan
Islam berhasil meraih kemenangan gemilang. Roderick sendiri menghilang,
dan di duga ia tenggelam di Sungai Barbate. Kuda dan sepatunya ditemukan
di tepi sungai.
Gubernur Musa bin Nusair lalu mengirim surat
kepada Khalifah Al-Walid, melukiskan jalannya peperangan Rio Barbate.
“Penaklukan ini berbeda dari penklukan-penaklukan lain. Peristiwa
seperti kiamat,” tulisnya.
Kemenangan telak dalam pertempuran di
Sungai Barbate itu membentang jalan bagi masuknya Thariq bin Ziyad
menuju kota Sevilla yang dijaga oleh benteng-benteng kuat. Tapi sebelum
merebut Sevilla, Thariq lebih dulu menaklukkan daerah-daerah lain yang
lebih lemah. Sebagian ditaklukkan dengan cara damai, tapi sebagian
terpaksa dengan kekerasan karena warga setempat melawan. Mereka bersikap
ramah terhadap penduduk yang tidak melawan.
Pasukan Thariq yang
sudah lebih besar karena ada tambahan pasukan baru, kini mengarah ke
Toledo, ibukota Visigoth (Gotik Barat). Di jalan ke Toledo itu mereka
menyapu kota Ecija dimana sempat terjadi perdamaian dan menerima
kekuasaan Muslim atas wilayah itu.
Dengan cepat Thariq berusaha
menaklukkan sebagian besar tanah Spanyol, yang oleh orang Arab dinamakan
Al-Andalus (Andalusia) itu. Ia lalu membagi-bagi pasukannya ke dalam
beberapa kelompok. Satu pasukan berhasil merebut Arkidona tanpa
perlawanan, dan pasukan lainnya juga dengan mudah merebut kota Elvira
dekat Granada. Ia lalu menaklukkan Cordoba dan sebagian wilayah Malaga.
Kemudian diteruskan dengan mengepung Granada yang berhasil ditaklukkan
dengan jalan kekerasan.
Thariq lalu menuju ibukota Toledo. Di
dalam perjalanan dia menyerang kota Murcia dan menghancurkan kerajaannya
sampai lumat. Ketika pasukan Islam di Toledo ternyata para pemimpin
Gotik telah meninggalkan wilayah itu. Thariq memasukinya dengan mudah.
Ketika itu pasukannya didukung pula oleh ksatria-ksatria Kristen lokal
yang tak suka kekuasaan Bangsa Gotik Barat di negaranya.
Thariq
terus mengejar para pejabat Gotik ke gunung, hingga mendapatkan harta
rampasan yang sangat banyak. Harta dan para tawanan dibawa ke Toledo. Di
sana para tawanan dipekerjakan untuk membangun kembali kota itu, antara
lain dengan membangun 365 tiang terbuat dari batu Zabarjud.
Musa
bin Nusair lalu mengirim surat kepada Thariq bin Ziyad, dan
memerintahkannya untuk menghentikan gerakan, dan tetap berada di tempat
surat itu tiba. Tapi, Thariq malah mengumpulkan para pejabatnya,
merundingkan strategi perang. Semuanya berpendapat melaksanakan
perintah Musa akan mempersulit strategi perang mereka. Sebab, sudah
terbuka untuk merekrut pasukan asal Toledo dan meraih momentum untuk
menyerang lawan yang belum menyadari situasi.
Karena
itu Thariq melanjutkan penaklukan seraya merekrut milisi dari warga
Toledo yang sudah kalah. Thariq mengabarkan keputusannya ini kepada Musa
bin Nushair disertai alasan-lasannya.
Ketika pesan Thariq sampai,
Musa langsung berangkat ke Spanyol pada bulan Juni 712 M dengan
membawa 18.000 tentara, kebanyakan orang Arab. Dan seperti yang pernah
disepakati dengan Thariq, pasukan Musa bin Nushair segera menuju
Sevilla, kota terkuat Spanyol saat itu. Sebelum ke Sevilla pasukan Musa
menaklukkan Medina Sidon dan Carmona. Musa mengepung ketat kota Sevilla
dan akhirnya berhasil menghancurkan kota pusat kebudayaan Spanyol itu.
Namun kota itu ditinggalkan Musa dalam keadaan kobaran api dan ia
melanjutkan perjalanan ke arah Toledo.
Warga Sevilla tetap tak
rela terhadap pendudukan oleh pasukan Muslim di sana. Setelah panglima
Musa bin Nushair meninggalkan kota itu, milisi Sevilla kembali beraksi
mengobarkan pemberontakan. Mereka dapat membunuh tentara Muslim.
Mendengar berita itu, Musa segera mengirim anaknya Abdul Aziz, untuk
kembali ke Sevilla. Ia sendiri terus menuju Toledo.
Mendengar
kabar akan datangnya panglima utamanya, Musa bin Nushair, Thariq segera
keluar ke perbatasan Toledo untuk menyambut Musa. Namun Musa sangat
marah kepadanya. Thariq dianggap telah mengabaikan perintahnya untuk
menghentikan sementara penaklukkan sampai ia datang ke Spanyol. Begitu
marahnya Musa sampai ia memasukkan jendralnya itu ke dalam penjara
layaknya seorang penjahat.
Di depan sidang dewan pertahanan, Musa
menyatakan memecat Thariq bin Ziyad, dengan tujuan memperbaiki segala
sesuatu yang telah dilakukan Thariq. Sekalipun Thariq berupaya
menjelaskan bahwa keputusannya itu dilakukan demi kemaslahatan kaum
Muslimin dan sudah dimusyawarahkan dengan para penasehat, Musa tetap
teguh pada pendiriannya. Ia mengganti Thariq dengan Mughits bin
Al-Harits, tapi Mughits menolaknya. Ia segan menjadi komandan di atas
Thariq sang pemeberani.
Mughits bahkan bertekad membela Thariq bin
Ziyad. Diam-diam dia mengirim kabar kepada Khalifah Al-Walid bin Abdul
Malik tentang situasi yang berkembang. Al-Walid sangat marah
mendengarnya. Ia lalu menyurati Musa dan memerintahkan agar kedudukan
Thariq dipulihkan sebagai komandan pasukan. Dan Musa menaati perintah
pemimpinnya di Damaskus itu.
Kemudian kedua panglima itu bergerak
terus ke utara, hingga berhasil menaklukkan Castilla, Aragon dan
Catalonia (Barcelona). Keduanya bahkan sampai ke pegunungan Pyrennes
yang menjadi batas antara Spanyon dan Perancis. Sekiranya tidak ada
perintah dari Damaskus untuk menghentikan penaklukan, niscaya gerakan
mereka berdua tak tertahankan untuk menguasai seluruh benua Eropa.
Perjalanan
hidup panglima Thariq bin Ziyad, sang penakluk Spanyol yang agung telah
menjadi bagian dari sejarah patriotisme Islam melalui penaklukan
Andalusia. [Widad/Miftahul Jannah]
sumber hilman